Memberdayakan Ponsel Saat Tidur Demi Riset Membasmi Corona

Memberdayakan ponsel saat tidur agaknya bukan menjadi sebuah kebiasaan normal dan sama sekali tidak biasa untuk dilakukan oleh sebagian besar orang. Kisah ini adalah tentang Hannah Lawson West, seorang wanita biasa yang seperti kebanyakan orang pada umumnya, punya ritual tertentu sebelum tidur.

Apa yang membuatnya menjadi berbeda adalah fakta bahwa kini ia punya kebiasaan baru, yakni membiarkan ponselnya menjelma jadi sebuah alat riset. Sedikitnya ada ribuan pergerakan terkait komputasi ilmiah secara kompleks pada ponselnya dan secara konsisten mengirimkan data penting untuk dipakai oleh ilmuwan demi memajukan hasil penelitian.

Memberdayakan Ponsel Saat Tidur Demi Riset Membasmi Memberdayakan Ponsel Saat Tidur Demi Riset Membasmi CoronaCorona

Hannah selalu membiasakan diri untuk beranjak menuju tempat tidur sekitar 22.30 waktu setempat, tepat sebelum ia menyalakan pemanas ruangan lalu membersihkan gigi. Beberapa saat sebelum tertidur, ia mengecek akun sosmed, membuka beberapa artikel maupun berita, kemudian mengisi tenaga kepada baterai ponselnya hingga akhirnya ia pun terlelap.

Sementara sedang tidur nyenyak selama kurang lebih delapan jam, ponsel milik wanita yang pada tahun ini genap usianya 31 tahun tersebut pun bekerja. Seketika ia hidup kemudian mulai bergerak memberikan bantuan kepada setiap ilmuwan untuk mempercepat penelitian Covid sehingga pandemi dapat segera cepat berakhir.

Memberdayakan Ponsel Saat Tidur Membantu Mempercepat Berakhirnya Pandemi

Hannah rutin memberdayakan ponsel saat tidur selama beberapa bulan terakhir demi membantu percepatan berakhirnya pandemi. Telepon genggamnya telah berjasa dalam melaksanakan tugasnya menuntaskan pekerjaan hingga kurang lebih 2.500 perhitungan komputasi terhitung hingga detik ini.

Wanita ini adalah hanya satu contoh dari total seratus ribu volunteer mencakup wilayah seluruh dunia yang mengizinkan ponselnya bergerak sepanjang tidur malamnya. Daripada sekedar memamerkan harta dengan membeli casing hp berlapis emas 24 karat milik Syahrini yang sempat membuat heboh netizen, jauh lebih baik memanfaatkannya untuk kepentingan seluruh umat manusia khususnya selama pandemi.

Ide ini datang dari sebuah perusahaan asal luar negeri yang mempromosikan aplikasi keluaran mereka dengan nama DreamLab. Semua sukarelawan telah secara rutin memberikan sumbangan dengan mengizinkan ponselnya melakukan komputasi tanpa merasa terganggu atau bahkan pamrih karena ingin mengharapkan imbalan.

Entah bagaimana ceritanya, namun sepertinya ponsel kita memiliki karakteristiknya masing – masing yang mencerminkan gaya hidup pribadi setiap orang. Itu adalah sesuatu yang menjadi dasar daripada terbentuknya Dreamlab, dan sungguh tak dapat disangka-sangka bahwa responnya sangat positif terlebih lagi dari penduduk Amerika Serikat.

Kekuatan Tersembunyi di Balik Sebuah Telepon Genggam

Belum pernah ada sebelumnya bahwa orang dapat memberdayakan ponsel saat tidur demi kepentingan riset terkait kesehatan umat manusia seperti Dreamlab. Ia akan selalu hidup pada saat malam menjelang, membuat sebuah simulasi virtual sehubungan dengan pemecahan molekul pada asupan makanan manusia terutama dalam hal jumlah kandungan nutrisi di dalamnya.

Ilmuwan berharap dari aplikasi ini kita dapat mengetahui zat apakah yang paling efektif dalam rangka menyembuhkan sel manusia akibat dari serangan covid. Meski demikian, ternyata mereka pun belum menemukan bukti kuat bahwa ada korelasi kuat antara menu makanan dengan kemampuan tubuh melawan covid sampai ia mampu menciptakan antibodinya sendiri.

Maka dari itu, mereka sangat berharap agar penelitian ini dapat segera membuahkan hasil memuaskan dan dapat berguna untuk kelangsungan hidup umat manusia di masa depan. Smartphone yang anda beli mungkin terlihat biasa saja karena lebih sering terpakai untuk membuka Instagram maupun Facebook, tapi ketahuilah bahwa ada kemampuan tersembunyi di balik sebuah telepon genggam.

Ketika anda mengizinkan aplikasi ini hidup secara otomatis, maka mereka dapat mengurai sekumpulan data dalam tempo sekitar tiga hingga empat bulan. Sementara pada komputer desktop biasa dengan jumlah data serupa, maka akan dibutuhkan waktu dengan durasi ekstrim yaitu sedikitnya 300 tahun lamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *